Akal dan Wahyu

Posted: Januari 10, 2011 in Uncategorized

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempura. Manusia memiliki banyak kelebihan dibading dengan makhluk yang lain seperti yang terdapat dalam Al Quran surat At-Tin ayat 4 sebagai berikut :

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya (QS At-Tin [95]: 4)”
Satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah kepemilikan akal. Akal yang dimiliki oleh manusia, digunakan untuk memilih, mempertimbangkan, dan menentukan jalan pikirannya sendiri. Dengan menggunakan akal, manusia mampu memahami Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad sebagai wahyu. Dengan akal pula, manusia mampu menelaah sejarah Islam dari masa ke masa mulai dari masa lampau. Akal ini juga digunkan untuk memedaan baik dan buruknya sesuatu.
Ajaran Islam adalah ajaran yang perlu dipelajari baik melalui Al Quran dan juga melalui sunnah Rasul. Seiring perkembangan jaman, masalah yang timbul semakin global. Untuk berkehidupan sesuai dengan ajaran Islam, maka pelaksanaan kehidupan harus sesuai dengan Al Quran dan Hadist. Dengan hal tersebut, maka muncullah sebua ilmu yakni Ijtihad. Ijtihad adalah upaya yang dilakukan guna mencapai pengetahuan tentang ajaran Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mengikuti ajaran beliau di samping mengaitkan permasalahan-permasalahan baru ke dalam kaidah yang telah disimpulkan dari al-Qur’an dan hadits Nabi.
Untuk memperoleh pegetahuan, maka cara yang dilakukan yakni menelaah wahyu dan menggunakan akal. Akal adalah anugerah yang diberikan Allah SWT yang mempunyai
kemampuan untuk berpikir, memahami, merenungkan, dan memutuskan. Wahyu adalah penyampaian sabda Allah kepada orang yang menjadi pilihannya untuk diteruskan kepada umat manusia sebagai pegangan dan panduan hidupnya agar dalam perjalanan hidupnya senantiasa pada jalur yang benar.
Akal dan wahyu adalah dua elemen penting dalam pengetahuan Islam. Wahyu berisi tuntunan untuk menjalani kehidupan bahagia baik dunia dan akhirat. Dengan menggunakan akal, manusia bisa menelaah dan mempelajari wahyu Allah, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Tugas akal adalah menjelaskan apa yang disampaikan wahyu.
Dalam tulisan ini, akan dibahas pengertian akal dan wahyu, peranan keduanya untuk mendapatkan pengetahuan, dan peranan masing-masing dalam usaha memperoleh pengetahuan.
b. Pengertian Akal
Materi “aql” dalam al-Qur’an terulang sebanyak 49 kali, kecuali satu, semuanya datang dalam bentuk kata kerja seperti dalam bentuk ta’qilun atau ya’qilun. Kata kerja ta’qilun terulang sebanyak 24 kali dan ya’qilun sebanyak 22 kali, sedangkan kata kerja a’qala, na’qilu danya’qilu masing-masing satu kali.
Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan ibnu Taimiyah. Lafadz akal adalah lafadz yang mujmal (bermakna ganda) sebab lafadz akal mencakup tentang cara berfikir yang benar dan mencakup pula tentang cara berfikir yang salah. Adapun cara berfikir yang benar adalah cara berpikir yang mengikuti tuntunan yang telah ditetapkan dalam syar’a. Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah dalam bukunya yang berjudul Hukum Islam dalam Timbangan Akal dan Hikmah juga menyinggung mengenai kesesuaian nash al-Qur’an dengan akal, jika ada pemikiran yang bertentangan dengan akal maka akal tersebutlah yang salah karena mengikuti cara berpikir yang salah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya.
Berdasarkan hal tersebut, maka akal adalah gabungan dari dua pengertian di atas, yang disampaikan oleh ibn Taimiyah dan menurut kamus, yakni daya pikir untuk memahami sesuatu, yang di dalamnya terdapat kemungkinan bahwa pemahaman yang didapat oleh akal bisa salah atau bisa benar. Untuk selanjutnya, dalam penelitian ini hanya terbatas pada penggunaan kata akal.
Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at al-‘Uqul menyatakan bahwa ’aql (akal) secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu.
Secara istilah, akal digunakan untuk menunjukkan salah satu definisi berikut ini:
1. Kemampuan untuk mengetahui sesuatu.
2. Kemampuan membedakan kebaikan dan keburukan yang dapat digunakan untuk mengetahui hal-hal yang mengakibatkannya dan sarana-sarana yang dapat mencegahnya.
3. Kemampuan dan keadaan yag terdapat dalam jiwa manusia yang mengajak kepada kebaikan dan keuntungan dan menjauhi kejelekan dan kerugian.
4. Kemampuan yang bisa mengatur kehidupan manusia. Jika sesuai dengan hukum dan dipergunakan untuk hal-hal yang dianggap baik oleh syariat, maka itu adalah akal budi. Tetap ketika digunakan untuk melakukan hal-hal yang menentang syariat, maka disebut nakra` atau syaithanah.
5. Akal juga dapat dipakai untuk menyebut tingkat kesiapan dan potensialitas jiwa dalam menerima konsep-konsep universal.
6. An-nafs an-nathiqah (jiwa rasional yang dipergunakan untuk menalar) yang membedakan manusia dari binatang lainnya.
7. Dalam bahasa filsafat, akal merujuk kepada substansi azali yang tidak bersentuhan dengan alam material, baik secara esensial (dzaty) maupun aktual (fi’ly).
Imam Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir berkata, “Ketika Allah menciptakan akal, Dia mengajaknya berbicara. Allah berkata, ‘Menghadaplah (kepada-Ku)!’ Maka, akalpun segera menghadap. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘ Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, tiada makhluk yang lebih Aku cintai daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang-orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala.’”
Mulla Shadra dengan tegas memaknai ‘aql di sini sebagai kepribadian Nabi Muhammad SAW. – dalam seluruh martabat wujud beliau. Karena menurutnya, semua sifat yang diberikan Allah kepada akal itu identik dengan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. yakni:
1. Dalam hadis ini digambarkan bahwa Allah mengajak akal “berbicara”. Dan ini sama halnya dengan Allah mengajak Nabi berbicara dalam perjalanan Mikraj beliau.
2. Hadis ini menegaskan ketaatan akal kepada Allah. Ketaatan Nabi kepada Allah itu bersifat aksiomatis.
3. Dalam hadis di atas Allah menandaskan kecintaan-Nya yang luar biasa kepada akal. Dalil-dalil rasional dan riwa`iy (riwayat) menegaskan bahwa Nabi adalah makhluk yang paling dicintai Allah.
4. Keimanan terhadap wujud Nabi atau kepada kenabian beliau ialah syarat mutlak kesempurnaan tauhid. Dan kesempurnaan tauhid adalah anugerah agung dan luas yang tidak Allah berikan kecuali kepada para kekasih-Nya.
5. Dan sifat terakhir yang tercantum di dalam hadis ini adalah bahwa kepada akal-lah Allah menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala.
Allah berfirman, “(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji para nabi (yaitu), sungguh apa yang Aku datangkan kepada kalian berupa kitab dab hikmah. Kemudian, datanglah kepada kalian utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian dan berkata, ‘Hendaklah kalian beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berkata, ‘Adakah kalian akui dan ambil janji-Ku itu!’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakuinya.’ Berkata Allah, ‘Bersaksilah! Sesungguhnya Aku beserta kalian akan menjadi saksi.’” (QS Ali’ Imran, 3:81).
Jelas bahwa kepada Nabi Muhammad SAW. Allah memberi perintah dan larangan dan karena beliau pulalah Allah menurunkan pahala dan siksa.
Dengan ungkapan yang agak berbeda, Allamah Thabathaba`i menarik kesimpulan yang sama. Dalam magnum opus-nya, Al-Mizan, Allamah Thabathaba`i menye-buntukan, dengan mengutip sebuah hadis masyhur, bahwa akal adalah sesuatu yang dengannya Allah di-sembah. Dengan kata lain, akal adalah lentera yang dengannya seseorang dapat mengenali “Wajah” Allah. Ini berarti bahwa peran yang dimainkan akal itu sama sekali tidak berbeda dengan peran yang dibawa oleh Nabi.
Dan kesimpulan ini jelas tidak berbeda dengan kesimpulan Mulla Shadra yang mengatakan bahwa akal itu identik dengan Nabi Muhammad SAW.
Dari sudut yang berbeda, dapat kita katakan bahwa akal adalah manifestasi dan petunjuk internal dari keberadaan Nabi. Muhammad adalah inti wujud segenap nabi dan senjata pamungkas kerasulan. Bagaimanapun juga, manifestasi mesti mencerminkan obyek dasarnya. Dengan demikian, semua ucapan, amalan, dan penegasan Nabi Muhammad SAW pasti bersifat rasional. Lebih jauh, Nabi Muhammad SAW. adalah kriteria rasionalitas dan irasionalitas segala sesuatu.
Dari pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa akal adalah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang merupakan manifestasi internal dari keberadaan Nabi.
c. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Pada bagian sebelumnya telah disebutkan bahwa pengetahuan dalam persektif Islam dapat diperoleh dengan akal dan wahyu. Sebelum lebih jauh membahas mengenai akal dan wahyu serta kaitan diantara keduanya, maka terlebih dulu akan dibahas mengenai pengetahuan.
Istilah ilmu pengetahuan timbul dari dua kata; ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan (ma’rifah/knowledge) dalam pandangan James K adalah hubungan antara objek dan subjek. Dalam hal ini, subjek paham dengan apa yang dihadapi yakni objek. Subjek adalah manusia yang memiliki indra dan akal yang membedakan dengan makhluk lain yang digunakan untuk mengetahui segala sesuatu. Objek adalah benda atau hal yang diselidiki..
Ilmu dalam pandangan para ahli mempunyai pengertian sebagai berikut:
1. Ashley Montagu dalam bukunya The Cultured Man menyebutkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang di susun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi, dan pengalaman untuk menentukan hakekat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang di pelajari.
2. Zakiah Darojah, dkk. Dalam bukunya ” AGAMA ISLAM ” merumuskan bahwa ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara objektif dan sistematis yang dimanfaatkan untuk memperoleh kebahagiaan yang berasal dari Tuhan dan disimpulkan olah manusia melalui hasil penemuan pemikiran.
Dari beberapa penemuan di atas, ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu:
1. Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika, hasil yang di peroleh bersifat rasional dan objektif.
2. Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, studi dan pemikiran. Baik melakui pendekatan deduktif maupun induktuf atau keduaduanya.
3. Sumber dari segala ilmu adalah Tuhan, karena Dia yang menciptakannya.
4. Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.
Kehadiran Nabi Adam AS di bumi berbekal seperangkat ilmu pengetahuan (Q.S.2: 31).
Dengan ilmu tersebut Adam dam anak cucunya terangkat derajatnya. Oleh karna itu, ilmu pengetahuan dapat di buat sebagai standar kualitas manusia. Di samping itu, ilmu pengetahuan mempunyai kedudukan tinggi dalam peandangan Islam. Di antaranya adalah:
1. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran.
2. Ilmu pengetahuan sebagai prasarat amal soleh
3. Ilmu pengtahuan adalahinstrumen untuk mengelola sumber-sumber alam guna mencapai ridho Allah.
4. Ilmu pengtahuan sebagai alat pengambang daya pikir.
Banyak pendekatan yang banyak dilakukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan .
1. Empirisme
Cara pencarian ilmu pengetahuan melalui panca indra, karna indra tersebut yang menjadi instrument untuk menghubungkan ke Alam.
2. Rasionalisme
Suatu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan pikiran.
3. Aliran yang menggabungkan antara pendekatan Empirisme dan Rasionalisme. Aliran ini berkeyakinan bahwa cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu melalui pengertian dan pengindraan.
4. Intuisi
Pendekatan ini membagi alam atas dua kategori yaitu
a. Alam pertama, yang dapat di obserfasi dan di eksperimentasi oleh ilmu pengetahuan modern.
b. Alam intuisi, yang berkaitan dengan jiwa yang tidak mungkin di tundukkan dengan pengalaman atau analogi.
5. Wahyu
Cara ini bersifat metafisik yang bercirikan transcendental, supra indrawi serta supra rasio.
6. Ilham, sejenis dengan wahyu. Hanya saja wahyu khusus untuk para Nabi dan Rasul, sedangkan ilham untuk orang muslim pada umumnya.
d. Pengertian Wahyu
Wahyu sendiri dalam Al Quran disebut dengan kata al-wahy yang memiliki beberapa arti seperti kecepatan dan bisikan. Wahyu adalah nama bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada nabi-nabi-Nya.
Wahyu adalah sesuatu yang dimanifestasikan, diungkapkan. Ia adalah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan penegasan atas kebenaran. Setiap gagasan yang di dalamnya ditemukan kebenaran ilahi adalah wahyu, karena ia memperkaya pengetahuan sebagai petunjuk bagi manusia.
Allah sendiri telah memberikan gambaran yang jelas mengenai wahyu ialah seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 16 yaitu:
“Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”
Pengertian wahyu adalah kitab Al Quran yang di dalamnya merupakan kumpulan-kumpulan dari wahyu yang membenarkan wahyu-wahyu sebelumnya (taurat, injil, zabur) dan diturunkan oleh Allah hanya kepada Nabi Muhammad SAW selama hampir 23 tahun.
Berikut adalah pengertian wahyu :
1. Wahyu dikatakan wahaitu ilaihi atau auhaitu bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak diketahui orang lain.
2. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang dan terkadang melalui suara semata dan terkadang pula melalui isyarat dengan anggota badan.
3. Al-wahyu adalah kata masdar/infinitif dan materi kata itu menunjukkan dua dasar yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi kadang-kadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha yaitu pengertian isim maf’ul yang diwahyukan.
4. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi Ilham sebagai bawaan dasar manusia seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ‘Susuilah dia ..’. .
Ilham berupa naluri pada binatang seperti wahyu kepada lebah Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah ‘Buatlah sarang di bukit-bukit di pohon-pohon kayu dan di rumah-rumah yang didirikan manusia’. {An-Nahl’ 68}.
Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al Quran Maka keluarlah dia dari mihrab lalu memberi isyarat kepada mereka ‘Hendaknya kamu bertasbih di waktu pagi dan petang’. {Maryam’ 11}.
5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan.
“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman’.” {Al-Anfal’ 12}.
6. Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar’i mereka definisikan sebagai kalam (perkataan) Allah yang diturunkan kepada seorang nabi.
7. Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.
Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar haus sedih dan senang.
Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf tetapi pembedaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa wahyu adalah firman Allah yang disampaikan kepada Nabi-Nya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk disampaikan kepada umatnya.
e. Hubungan Akal dan Wahyu
Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan isu yang selalu hangat diperdebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi-argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya.
Pernah ada penelitian yang dilakukan oleh George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University
Press pada Tahun 1985 tentang akal dan wahyu. Penelitian yang mereka lakukan berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu.
Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263. Langkah yang dilakukan adalah mencoba menjelaskan hubungannya, dan langkah yang kedua adalah dengan cara menghindarkan pertentangan diantara keduanya atau mencari kesesuaian. Akan tetapi Arberry menganggap karya Ibn Rushd itu sebagai percobaan terakhir untuk membuktikan hubungan antara akal dan wahyu, sedangkan Ibn Taymiyyah digambarkan sebagai orang yang menghentikan percobaan ini.
Sejatinya keduanya berasumsi sama bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan, tapi karena situasi sosial dan latar belakang pemikiran mereka tidak sama kesimpulan yang mereka hasilkan berbeda.
Ibn Rushd tidak saja dipengaruhi oleh pemikiran masyarakat yang beranggapan bahwa sains dan falsafah bertentangan dengan agama tapi juga oleh konflik-konflik yang terjadi antara ahli-ahli filsafat dan ilmu agama.
Berbeda dari Ibn Rushd, perhatian Ibn Taymiyyah difokuskan pada pemahaman masyarakat tentang Islam yang dalam pandangannya telah dirusak oleh doktrin-doktrin sufism, teologi dan filsafat seperti yang nampak dalam amalan-amalan bid’ah di masyarakat.
A. Prinsip hubungan Ibn Rushd
Dalam membahas masalah akal dan wahyu Ibn Rushd menggunakan prinsip hubungan (ittisal) yang dalam argumentasi-argumentasinya mencoba mencari hubungan antara agama dan falsafah. Argumentasi-argumentasinya adalah dengan menentukan kedudukan hukum daripada belajar falsafah. Menurutnya belajar falsafah adalah belajar ilmu tentang Tuhan, yaitu :
 Hal yang pertamakali dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan filsosofis yang mengkaji dan memikirkan segala sesuatu yang wujud (al-mawjudat) yang merupakan pertanda adanya Pencipta, karena al-mawjudat adalah produk dari ciptaan. Lebih sempurna ilmu kita tentang hasil ciptaan Tuhan (al-mawjudat ) lebih sempurna pula ilmu kita tentang Tuhan. Karena wahyu mengajak mausia bertafakkur tentang al-mawjudat ini, maka belajar falsafah diwajibkan dan diperintahkan oleh wahyu.
 Kedua, membuat justifikasi bahwa kebenaran yang diperolehi daripada demonstrasi (alburhan) sesuai dengan kebenaran yang diperolehi daripada wahyu. Disini ia berargumentasi bahwa di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal (nazar) untuk memahami segala yang wujud. Karena nazar ini tidak lain daripada proses berfikir yang menggunakan metode logika analogi, maka metode yang terbaik adalah metode demonstrasi (qiyas al-burhani).
Sama seperti qiyas dalam ilmu Fiqh (qiyas al-fiqhi), yang digunakan untuk menyimpulkan ketentuan hukum, metode demonstrasi (qiyas alburhan) digunakan untuk mamahami segala yang wujud (al-mawjudat), Hasil dari proses berfikir demonstrtif ini adalah kebenaran dan tidak dapat bertentangan dengan kebenaran wahyu, karena kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran. Kedua-dua thesis diatas merupakan asas bagi kesimpulan Ibn Rushd selanjutnya yang menyatakan bahwa para filosof memiliki otoritas untuk menta’wilkan al-Qur’an.
Berdasarkan ha tersebut, aka muncul pertanyaan yakni adakah kebenaran yang diperoleh akal tidak akan bercanggah dengan kebenaran wahyu? Jawapan pertanyaan ini tidak dinyatakan secara jelas, akan tetapi dapat difahami dari teori Ibn Rushd kemampuan akal dalam memahami wahyu, dan tentang wahyu yang diklassifikasikan ke dalam makna.
Berasaskan pada kemampuan akal manusia, Ibn Rushd membahagi masyarakat ke dalam tiga kelompok :
 Pertama, kelompok yang tidak dapat menafsirkan Al Quran
 Kedua, kelompok yang memiliki kemampuan menafsirkan secara dialektik
 Ketiga kelompok yang mampu menafsirkan secara demonstratif yang disebut ahl al-burhan.
Akal dalam klassifikasi ini difahami sebagai kemampuan untuk berfikir dan memahami. Sedangkan wahyu dalam hal ini dibagi ke dalam tiga bentuk makna yang terkandung didalamnya yaitu :
1) Teks yang maknanya dapat difahami dengan tiga metode yang berbeda (metode retorik, dialektik dan demonstratif);
2) Teks yang maknanya hanya dapat diketahui dengan metode demonstrasi. Makna yang terkandung dalam teks ini terdiri dari:
 makna zahir, yaitu teks yang mengandungi simbol-simbol (amthal ) yang dibuat untuk menerangkan idea-idea yang dimaksud.
 makna batin yaitu teks yang mengandungi idea-idea itu sendiri dan hanya dapat difahami oleh yang disebut ahl al-burhan.
 teks yang bersifat ambiguos antara zahir dan batin.
Klassifikasi teks wahyu ini juga merujuk kepada kemungkinan untuk dapat difahami dengan akal. Nampaknya, yang dimaksud Ibn Rushd sebagai hubungan (ittisal) adalah hubungan antara ayat-ayat yang mengandungi makna batin dan kemampuan akal untuk memahami dengan metode demonstratif. Maka itu menurutnya perkataan al-rasikhun fi al-ilm adalah mereka yang memiliki pengetahuan berdasarkan metode demonstrasi, yaitu para filosof.
Dari klassifikasi diatas agaknya jawapan yang diberikan Ibn Rushd jelas bahwa pertentangan antara akal dan wahyu tidak terjadi apabila akal difahami sebagai al-burhan. Namun demikian, Ibn Rushd tetap mengakui adanya kemungkinan pertentangan antara ahl al-burhan dan teks wahyu. Dan untuk itu solusi yang terbaik menurutnya adalah seperti cara pengambilan hukum Fiqh. Dalam kes tertentu pengetahuan tentang al-mawjud (tidak disebutkan dalam wahyu dan dalam bentuk yang lain. Jika tidak disebutkan maka ia harus disimpulkan, seperti qiyas dalam Fiqh.
Jika pengetahuan itu disebutkan dan makna zahirnya betentangan dengan hasil pemikiran demonstratif maka diselesaikan dengan dua cara:
 Pertama dengan interpretasi secara majazi (alegorik) atau kiasan makna zahir itu sesuai dengan aturan-aturan bahasa Arab yang berlaku, yaitu menterjemahkan arti sesuatu ekspresi dari yang bersifat metaforikal kepada pengertian yang sesungguhnya.
 Kedua dengan mencari semua makna zahir dalam Al Quran yang bersesuaian dengan interpretasi alegorik atau yang mendekati makna alegorik itu.
Akan tetapi untuk menta’wilkan secara majazi makna ayat zahir pada alternatif pertama Ibn Rushd tidak hanya bersandar pada aturan-aturan Bahasa Arab sahaja, ia juga menetapkan aturan berasaskan pada kejelasan simbol dan benda yang disimbolkan untuk menentukan apakah sesuatu ayat zahir boleh dita’wilkan atau tidak.
Jika makna zahir sesuatu ayat adalah seperti arti yang dimaksudkan (al-ma’na al-mawjud fi nafsihi), ayat itu tidak perlu dita’wilkan. Jika zahir ayat-ayat itu adalah simbol-simbol belaka dan bukan arti yang sesungguhnya daripada zahirnya ayat-ayat itu harus dita’wilkan sesuai dengan kesesuaian antara simbol (al-mithal ) dengan benda yang disimbolkan (al-mumaththal ). Jika simbol dan benda yang disimbulkan dapat mudah diketahui maka setiap orang boleh menta’wilkannya.
Tapi jika simbol dan benda yang disimbolkan sukar diketahui atau jika symbol-simbol itu mudah diketahui tapi benda yang disimbolkan sukar untuk diketahui atau jika benda yang disimbulkan dapat difahami dengan mudah tapi simbol-simbol ayat itu tidak dapat begitu saja diketahui, maka ayat-ayat ini hanya boleh dita’wilkan oleh yang berilmu dan tidak boleh diungkapkan kepada orang awam kecuali dengan penjelasan yang berbeda. Disini Ibn Rushd tidak menjelaskan lebih jauh tentang standard pengetahuan al-mithal dan al-mumaththal atau kreteria untuk membenarkan kesahihan pengetahuan mereka tentang kedua-dua hal itu. Nampaknya asas yang digunakan Ibn Rushd dalam ta’wil adalah Bahasa Arab yang merujuk kepada kebiasaan (adat lisan al-‘Arab) dan kejelasan simbol serta benda yang disimbolkan, terutama adalah kemampuan akal memahami maknanya dengan menggunakan metode demonstratif.
Standard bahasa Arab dengan simbol-simbol itu tidak dikaitkan dengan bahasa sebagai simbol suatu konsep yang dijelaskan Nabi dan difahami oleh para sahabat dan tabi’in. Demikian pula proses ta’wil yang dijelaskan seakan-akan menggambarkan bahwa pengetahuan ahl al-burhan adalah taken for granted, benar. Ini bermakna bahwa kebenaran wahyu perlu dikaji ulang dan tidak memberikan ruang untuk menjelaskan proses bagaimana seharusnya pengetahuan demonstrasi dikaji ulang.
Pandangan ini boleh difahami sebagai mendahulukan akal daripada wahyu, yaitu pandangan yang bertentangan dengan pemikiran salaf, seperti al-Ghazzali, Ibn Hazm, Ibn Taymiyyah atau lainnya. Dengan membatasi makna perkataan al-rasikhun fi al-ilm berarti ia memberikan otoritas menta’wilkan makna batin Al Quran kepada filosof, tanpa mempertimbangkan otoritas Nabi dan para sahabat. Hal ini membahayakan kemutlakan kebenaran wahyu, walhal pengetahuan para filosof tentang realitas (wujud), yang diperolehi dari metode demonstrasi belum dapat dikatakan final. Dalam masalah doktrin ketuhanan atau konsep tentang Tuhan, misalnya, falsafah Yunani masih mengandung pertentangan dan berbeda dari konsep dalam Al Quran.
Jika Ibn Rushd membahas lebih detail konsep akal tanpa membatasi pada metode demonstrasi falsafah Yunani kesesuaian akal dan wahyu dapat difahami lebih jelas. Prinsip kesesuaian Ibn Taymiyyah Prinsip ‘kesesuaian’ Ibn Taymiyyah yang berarti tanpa pertentangan tercemin dari judul kitabnya yang menggunakan perkataan muwafaqat dan dar’ ta’arud.
Meskipun implikasi makna perkataan ini hampir sama dengan perkataan ittisal dalam pandangan Ibn Rushd, tapi prinsip-prinsip yang digunakan berbeda, terutama dalam memahami makna akal (’aql ) dan dalam menjabarkan wahyu (al-naql, al-sam’). Prinsip-prinsip Ibn Taymiyyah ini dapat difahami dari komentar dan jawabannya terhadap masalah yang dibahas oleh filosof dan mutakallimun khususnya Fakhr al-Din al-Razi, yaitu : bagaimanakah penyelesaiannya jika terjadi ‘pertentangan antara akal dan wahyu’.
Dari kesemua pembahasan Ibn Taymiyyah sekurang-kurangnya terdapat tiga prinsip utama yang dimaksud untuk menjawab masalah itu dan membangun prinsip kesesuaian antara akal dan wahyu. Ketiga-tiga prinsip itu ialah sebagai berikut:
1. Pertama, bahwa rasional atau tradisional bukanlah sifat yang boleh menentukan sesuatu itu benar atau salah, diterima atau ditolak. Ia hanyalah metode atau jalan untuk mengetahui sesuatu. Jika sesuatu itu berasal dari tradisi (al-sam’) semestinya ia bersifat rasional, sifat tradisional tidak bertentangan dengan sifat rasional. Shariah terkadang bersifat tradisional dan terkadang rasional; bersifat tradisional (sam’iyyan) jika ia menetapkan dan menunjukkan sesuatu, dan bersifat rasional jika ia memperingatkan dan menunjukkan sesuatu hal.
2. Kedua, jika terjadi pertentangan antara akal dan wahyu, maka prioritas diberikan kepada wahyu dan menolak akal. Akal tidak mungkin diberi prioritas karena melalui akal kebenaran wahyu dibuktikan. Jika akal diberi prioritas sedangkan akal itu sendiri boleh berbuat salah, maka ia tidak boleh menjadi alat untuk menentukan kebenaran, lagipun disini wahyu akan dianggap mengandung kesalahan.
Prinsip ini masih bersifat umum dan tidak termasuk pertentangan antara pengetahuan tradisional (wahyu) dan rasional (akal). Ketiga, jika pertentangan terjadi antara proposisi akal dan wahyu maka harus dikaji apakah proposisi itu qat’i atau zanni.
Jika kedua-dua proposisi itu qat’i, maka tidak mungkin terjadi pertentangan dan jika kedua-dua proposisi itu zanni maka dipilih proposisi yang lebih pasti (rajih). Jika proposisi yang dihasilkan akal lebih pasti (qat’i), maka prioritas diberikan kepada proposisi akal daripada proposisi dari pengetahuan wahyu (al-sam’i) dan sebaliknya. Tapi proposisi akal diutamakan bukan karena ia berasal dari akal tapi karena sifat qat’i-nya itu.
Secara umum, pandangan Ibn Taymiyyah menolak prinsip akal sebagai asas wahyu dan asas bagi menentukan kesahihan wahyu yang berarti mendahulukan akal daripada wahyu. Alasannya, karena keberadaan wahyu berasal dari nabi (al-sam’) dan bukan dari akal.
Meskipun kebenaran wahyu dapat diketahui dengan pengetahuan akal, tapi pengetahuan akal tidak dapat menetapkan adanya (thubut) wahyu. Kesahihan wahyu tidak mungkin bergantung pada pengetahuan yang diperoleh akal, sebab sifat dapat difahami atau diketahui oleh akal bukanlah sifat lazim (sifah lazimah) sesuatu benda.
Seandainya kebenaran wahyu itu tidak diketahui atau dibuktikan oleh akal sekalipun ia tetap memiliki sifat kebenaran, karena itu kita tidak dapat menjadikan semua pengetahuan akal sebagai asas bagi wahyu atau dalil bagi kebenarannya.
Baginya, asas kesahihan wahyu adalah kebenaran Nabi (sidq al-rasul ). Mendahulukan akal berarti pada mengutamakan pendapat filosof, mutakallim atau sufi daripada risalah Nabi, dan dapat mengakibatkan bid’ah dan kekufuran.
Meskipun demikitan, Ibn Taymiyyah sama sekali tidak merendahkan makna akal jika akal difahami sebagai a) watak (gharizah) atau b) pengetahuan yang diperoleh dari akal (al-ma’rifa al-hasila bi-l-‘aql). Sebagai gharizah akal menjadi syarat bagi segala macam ilmu, apakah rasional ataupun irrasional, dan dalam kedudukannya sebagai syarat, akal tidak dapat bertentangan dengan wahyu. Demikian pula sebagai pengetahuan yang diperoleh dari gharizah tadi akal difahami sebagai pengetahuan akal yang jelas dan pasti kebenarannya (aqli qat’i).
Pada poin ini Ibn Taymiyyah tidak memberikan penjelasan lebih detail atau contoh tentang apa hakekat pengetahuan akal yang pasti (‘aqli qat’i) itu. Mungkin maksudnya adalah pengetahuan yang diperoleh melalui fitrah, seperti yang ia jelaskan dalam kitabnya Naqd al-Mantiq. Tapi mungkin juga bermaksud necessary knowledge, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses tawatur dan yang menjamin pengetahuan yang pasti (‘ilm al-yaqini ) secara lafzi atau maknawi.
Pengetahuan ini dimiliki oleh Sahabah, tabi’un dan tabi’ al-tabi’un, sebab baginya mereka itu adalah sumber ilmu pengetahuan tradisi yang harus dipercayai. Tapi yang jelas pengertian ‘aqli qat’i ini merujuk kepada pengetahuan yang bukan berasal dari pemikiran spekulatif atau al-burhan seperti pandangan Ibn Rushd.
Selanjutnya dalam mendahulukan wahyu Ibn Taymiyyah berprinsip bahwa wahyu itu benar dan disampaikan melalui argumentasi-argumentasi tradisional dan rasional, karena itu tidak dapat bertentangan dengan pengetahuan akal yang benar.
Pertentangan itu mungkin terjadi karena pengetahuan tentang wahyu yang tidak jelas atau pengetahuan akal yang salah. Pengetahuan wahyu yang benar diperoleh dari proses berfikir yang benar dan pengetahuan terminologi yang sesuai dengan tradisi, dan bukan diluar itu. Maka itu ia membedakan terminologi (alfaz) yang digunakan dalam sunnah dan disepakati oleh ahl al-ijma’ dari terminologi yang tidak terdapat dalam tradisi (shari’ah, nusus wahyu dan sunnah). Untuk membedakan keduanya yang diperlukan adalah pemahaman terhadap tradisi (al-sam’, al-sunnah) yang merujuk pada perkataan Nabi, Sahabah, tabi’un and tabi’-tabi’un. Dari mereka inilah otoritas memahami wahyu bermula, sebab Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling tahu kebenaran dan karena itu ia adalah orang paling mampu untuk menerangkan kebenaran.
Maka itu ia memahami istilah ta’wil sebagai menjelaskan seperti yang dimaksud Allah atau merujuk kepada apa yang dikehendaki Allah dan kreteria ta’wil yang dapat diterima (ta’wil al-maqbul), adalah ta’wil yang sesuaia dengan arti yang dimaksud oleh “pembicara’ atau Tuhan melalui Nabi. Maka dari itu Ibn Taymiyyah tidak membatasi obyek ta’wil kepada perkataan majazi dalam Al Quran seperti dibahas Ibn Rushd. Meskipun ia mengartikan ta’wil sebagai penafsiran dan penjelasan ucapan, ia tetap menekankan pada kesesuaiannya dengan makna zahir dari lafaz ucapan itu. Dalam pandangannya perkataan zahir yang dapat difahami dari lafaz bermacam-macam bentuknya, ada yang menurut konteksnya dan ada pula yang difahami sesuai dengan ikatan-ikatan (quyud) yang ada didalamnya.
Ianya tidak memiliki denotasi yang uniform sehingga harus dita’wilkan apa adanya seperti yang dilakukan Ahl al-Ithbat, dan tidak memiliki denotasi batin yang harus selalu difahami secara batin seperti yang dilakukan Nufat al-Sifat. Jadi perkataan zahir diketahui dari denotasi lafaz secara mutlak, atau dari denotasi konteksnya atau dari kesamaannya dengan konteks yang lain.
Untuk itu ia menetapkan tiga sharat agar ta’wil itu dapat diterima:
1) menjaga agar lafaz itu sesuai dengan makna yang terdapat dalam Bahasa Arab dan maksud al-shari’ serta tidak memahami dengan makna lain.
2) menjaga agar maknanya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pembicara dalam konteks lafaznya.
3) memperhatikan ikatan-ikatan (quyud ) yang terdapat dalam lafaz dan yang mengikat maknanya, sebab perbedaan satu lafaz dengan lafaz lain ditentukan oleh ikatan yang menyertainya.
Oleh itu kita tidak boleh menta’wilkan lafaz-lafaz Al Quran dengan sesuka hati tanpa mengkaji maksud yang sesungguhnya sesuai dengan konteks masing-masing lafaz.
Selanjutnya ia membagi ta’wil menjadi dua:
1. Pertama, ta’wil yang berkaitan dengan perintah kepada manusia untuk berbuat, disebut dengan al-ta’wil al-talabi, yaitu ta’wil tengang perintah dan larangan (al-amr wa al-nahy). Di sini Ibn Taymiyyah menerima adanya kontradiksi antara satu teks dengan yang lain, berkaitan dengan teks-teks nasikh dan mansukh.
2. Kedua, ta’wil yang berkaitan dengan apa-apa yang disampaikan Tuhan (akhbar) tentang diriNya, tentang Hari Akhir dan lain-lain yang benar belaka sifatnya. Ta’wil dalam masalah yang kedua ini hanya Allah saja yang mengetahuinya, sedangkan manusia hanya dapat mengetahui arti literal teks itu, tapi tidak mengetahui ta’wil atau realitas yang sesungguhnya.
Dalam masalah-masalah doktrin (akhbar) ini Ibn Taymiyyah tidak melihat adanya kontradiksi teks wahyu seperti dalam al-ta’wil al-talabi, kontradiksi itu wujud hanya dalam akal orang yang memahami Jelaslah bahwa Ibn Taymiyyah dan Ibn Rushd berbeda dalam memahami makna ta’wil.
Bagi yang pertama ta’wil sama dengan tafsir dan menekankan pada kesesuaian zahir lafaz dengan makna dan makna dengan maksud al-shari’, sedangkan yang kedua menekankan makna ta’wil pada penjelasan makna sebenar (haqiqi) dari makna majazi atau makna batin sesuatu teks. Perbedaan ini dapat difahami lebih jelas melalui pemahaman mereka dalam menta’wilkan ayat-ayat mutashabihat yang diterangkan dalam al- Qur’an (3:7).
Ibn Rushd memahami bahwa ta’wil ayat mutashabihat hanya diketahui oleh Allah dan orangorang yang memiliki ilmu berfikir demonstratif, sedangkan bagi Ibn Taymiyyah hanya Allah saja yang tahu. Karena menurutnya para sahabah dan tabi’un memahami ayat mutashabihat, tapi mereka tidak mengetahui realitas sesungguhnya (modalitas) dari khabar yang disampaikan Allah itu dan hanya Allah saja yang tahu la ya’lamu ta’wilahu illallah. Inilah sebabnya mengapa Ibn Taymiyyah tidak menjelaskan perkataan al-rasikhun fi al-ilm, karena ia tidak berkaitan dengan otoritas menta’wilkan.
Abrahamov mendakwa ayat ini mematahkan pendapat Ibn Taymiyyah, karena kalimat hanya Allah saja yang tahu ta’wil ayat mutasyabihat’, menunjukkan bahwa Nabi dan dari para sahabat tidak mengetahui maknannya. Tapi nampaknya Abrahamov salah faham sebab ta’wil yang difahami Ibn Taymiyyah dalam ayat ini adalah realitas atau modaliti atau dalam bahasa salaf disebut al-kayf.
Kesimpulan Usaha Ibn Rushd untuk menghubungkan akal dan wahyu sangat sistimatis, akan tetapi pembatasan makna akal pada kemampuan berfikir demonstratif yang hanya dimiliki oleh filosof mengundang berbagai pertanyaan. Ia nampak seperti berlebihan dalam menilai kemampuan akal dan metode demonstrasi, tapi ia tidak mengamalkan ta’wil yang berasaskan al-burhan dalam membahas issue-issue falsafahnya. Demikian pula apabila ia memberikan otoritas kepada filosof untuk menta’wilkan wahyu, melebihi yang lain, ia telah mendahulukan akal daripada wahyu dan ini boleh mengurangi kemutlakan wahyu. Pandangan Ibn Taymiyyah adalah sebaliknya, yaitu memberi prioritas kepada wahyu tapi ia tidak mengesampingkan akal sama sekali. Akal dan pengetahuan akal yang berfikir benar tidak akan bertentangan dengan wahyu. Akal bagi Ibn Taymiyyah tidak memiliki status independent seperti pandangan Ibn Rushd. Dan berbeda dari al-Razi akal tidak dapat menjadi asas bagi wahyu, tapi justru wahyu adalah asas bagi akal. Karena ia tidak mengakui adanya pertentangan antara akal dan wahyu maka ia melihat itu hanya karena pengetahuan tentang wahyu yang tidak jelas atau pengetahuan akal yang salah. Untuk itu ia memandang perlunya pengetahuan tentang tradisi dan pendekatan linguistik yang benar, dan inilah esensi konsep ta’wil Ibn Taymiyyah.
Mungkin kesimpulan Abrahamov benar bahwa dalam Islam reaksi terhadap trend penggunaan akal dapat digambarkan sebagai berada pada dua kutub:
a) menolak secara mutlak anggapan bahwa akal adalah sumber pengetahuan agama
b) menerima akal sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
Tujuan Ibn Taymiyyah dan Ibn Rushd hakekatnya sama tapi posisi mereka tidak sama, meskipun kedua-duanya tidak berada pada salah satu kutub secara ekstrim, tapi mereka memiliki kecenderungan masing-masing pada salah satunya. Akhirnya, dari pandangan kedua-dua pemikir ini kita mengetahui bahwa konsep akal dan konsep berfikir serta pengetahuan yang benar dan tidak bertentangan dengan wahyu masih merupakan sesuatu poin yang perlu pembahasan lebih detail.
B. Implikasi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Ilmu penetahuan dan pendidikan Islam tidak dapat di pisahkan, karna perkembangan masyarakat Islam sangat di tentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang di cerna melalui proses pendidikan. Sains yang di kembangkan dalam pendidikan haruslah berorientasi pada nilai-nilai islami. Dengan potensi akal, manusia dapat mencari kebenaran walaupun akal bukan satu-satunya sumber kebenaran. Kebenaran sebenarnya dapat dicapai melalui pendekatan ilmiah dan filosofis dan sebagai pemandu kebenaran tersebut di butuhkan wahyu, yang sebelumnya harus di percayai sebagai sumber kebeneran dari Tuhan. Antara akal dan wahyu yang merupakan sumber ilmu pengetahuan satu sama lainny berhubungan erat dan tidak mungkin terjadi antithesis.
Akal dengan kekuatannya mampu menguak ilmu pengetaguan yang rasional, sedangkan wahyu melengkapinya dengan objek yang tidak hanya rasional tetapi juga supra rasional. Dengan demikian, sumber ilmu pengetahuan yang di kembangkan dalam pendidikan Islam memiliki dua jalur, yaitu jalur wahyu ilahi dan jalur karya ilahi. Yang keduanya saling menjelaskan dan menafsirkan.
Pendidikan Islam tidak menghendaki adanya dikotomi keilmuan. Terjadinya dikotomi dalam pendidikan Islam akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:
1. Kegagalan dalam merumuskan prinsip tauhid.
2. Lembaga pendidikan Islam akan melahirkan manusia yang berkepribadian ganda atau justru melahirkan dan memperkokoh sistem kehidupan umatyang sekuleristis dan matrealistis.
3. Tata kehidupan umat yang demikian akan melahirkan peradapan barat yang di poles dengan nama Islam.
Ilmu pengetahuan pada hakekatnya di kembangkan dalam rangka melaksanakan amanah Tuhan dalam mengendalikan alam dan isinya, sehingga dengan bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang, bertambah pulalah petunjuk Tuhan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat memberi nilai pragmatis apabila ilmu pengetahuan tersebut dapat menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas dalam menjalani kehidupan sebagai hamba dan kolifah Allah.

f. Penutup
Akal adalah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang merupakan manifestasi internal dari keberadaan Nabi. Wahyu adalah firman Allah yang disampaikan kepada Nabi-Nya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk disampaikan kepada umatnya.
Pengetahuan adalah hubungan antara subjek dan objek, sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji secara ilmiah dan kebenarannya jelas. Akal dan wahyu digunakan untuk mendapatkan pengetahuan bagi umat manusia.
Antara akal dan wahyu terdapat ruang dimana keduanya dapat bertemu dan bahkan saling berinteraksi dan terdapat pula ruang dimana keduanya harus berpisah. Pada saat wahyu merekomendasikan berkembangnya sain dan lestarinya budaya dengan memberikan ruang kebebasan akal agar berpikir secara dinamis, kreatif dan terbuka, di sanalah terdapat ruang bertemu antara akal dan wahyu.
Secara ontologis kebebasan berpikir sebagai kinerja akal tidak terikat dengan nilai, tetapi implikasi kebebasan berpikir itu secara aksiologis dibatasi dengan tanggungjawab dan moral. Hanya sebagaian filosof Barat seperti Galileo Galilie dan para pengikutnya yang membebaskan manusia mengembarakan akal pikirnya sebebas-bebasnya. Kebebasan itu tidak ada sangkut pautnya dengan nilai, sehingga mereka berpendapat bahwa ilmu sebagai produk kinerja akal adalah bebas nilai secara total.
Menurut filsafat Islam dimana dasar pijakannya adalah hikmah (fisafat) dan al-Qur’an, akal yang meretaskan budaya berpikir dalam implementasinya, sebagaimana dicontohkan oleh nabi, adalah tidak bebas nilai. Begitu pula ilmu sebagai produk kerja akal melalui proses berpikir tentu juga tidak bebas nilai. Di sinilah antara wahyu (moral agama) yang sarat nilai harus tidak boleh berpisah dengan akal. Secara etika ilmu harus dapat mensejahterakan kehidupan bukan sebaliknya. Oleh karenanya akal sebagai sarana menemukan kebenaran berhimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggungjawab agama. Menurut Imam al-Ghazali, akal betapa pun hebatnya harus mau dikontrol oleh wahyu. Kebenaran yang dicapai oleh akal bersifat relatif-spikulatif, sedangkan kebenaran wahyu bersifat mutlak karena datangnya dari Yang Maha Benar dan Maha Mutlak.
g. Referensi
[1] Hikmawan, Arham. 2009. Akal dan Wahyu Menurut Harun Nasution dan M. Quraish Shihab. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
[2] Hamid Fahmy Zarkasyi. 2007. Akal dan Wahyu dalam Pandangan Ibn Rushd dan Ibn Taymiyyah. http://www.insistnet.com – INSISTS – Institute for The Study of Islamic Thought and PCoivwileizreadtio bny Mambo. (diakses 2 Nopember 2010)
[3] Qomar Suaidi. 2004. Kedudukan Akal dalam Islam. Syariah Kajian Utama 08 edisi Oktober 2004.blog.re.or.id (diakses 2 Nopember 2010)
[4] Mulla Shadra, Syarh Ushul al-Kafi, Kitab Al-‘Aql wa Al-Jahl, hadis pertama. Penerbit Mussase-muthala’at wa tahqiqat-e farhangge.
[5] Allamah Thabathaba`i, al-Mizan, tafsir ayat 130 surah al-Baqarah.
[6] http://muhammadhabibi.student.umm.ac.id/ilmu-pengetahuan-dan-implikasinya-terhadap-proses-pendidikan-Islam.html (diakses 2 Nopember 2010).
[7] Studi Ilmu-Ilmu Quran, terjemahan dari Mabaahits fii ‘Uluumil Quraan Manna’ Khaliil al-Qattaan. Al_Islam.com (diakses 2 Nopember 2010)

Komentar
  1. ulfa mengatakan:

    Menjadi bijaksana arif benar dan proporsional mampu melihat dengan obyektif dari beberapa sisi dan sudut pandang pastiny membawa seseorang memiliki pribadi yang mempesona, MasyaALLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s