Berbicara dan Mendengarkan

Posted: Januari 6, 2011 in Uncategorized

Kathah Ngrukokke Luwih Becik Tinimbang Kathah Ngendikan


Mendengarkan adalah suatu kegiatan menggunakan panca Indra telinga untuk menyimak apa yang dibicarakan oleh orang lain. Mendengarkan memiliki banyak tujuan, yakni mendengarkan hanya untuk mendengarkan saja, mendegarkan untuk memberikan feedback, dan mendengarkan untuk mengambil kesimpulan.

Kegiatan mendengarkan memiliki banyak manfaat. Misalnya sebagai seorang sahabat. Seorang sahabat adalah tempat curhat sahabatnya. Dengan mendengarkan penuh perhatian, maka orang lain akan merasakan bahwa ia mendapat respon yang baik dari orang lain. Orang tersebut akan menaruh simpatik pada pendengar yang baik. Kadang-kadang seseorang ketika memiliki masalah hanya cukup membutuhkan orang yang mau mendengarkan saja sudah bisa mengurangi beban masalahnya. Teknik mendengarkan dalam studi kasus ini adalah mendengarkan dengan penuh perhatian. Mimik muka yang dimunculkan juga harus mimik muka penuh empati yang menunjukkan perhatian kita hanya ada pada orang yang sedang bercerita. Dalam keadaan ini, janganlah buat muka berlawanan dengan kondisi yang diveritakan. Bila kisahnya senang, maka sebaiknya muka kita juga ikut senang. Usahakan kita merasa tertarik dengan toik atau masalah yang sedang dibicarakan. Buka bermaksud mengajari untuk mencari muka di depan orang lain. Dengan sikap ini, maka akan melatih jiwa kita untuk menempatkan diri sebagai orang lain yang sedang dalam masalah yang selanjutnya akan mempertajam sikap mengerti keadaan orang lain. Dengan sikap ini yang dilakukan terus menerus, maka akan tercipta karakter yang selalu menilai sesuatu dari berbagai sudut pandang bukan hanya sepihak saja.

Nah pendengar yang kedua adalah pendengar yang selain sebagai tempat bercerita juga pendengar yang memberikan solusi. Pendengar yang satu ini harus mampu menganalisis masalah dan memberikan solusi yang tepat. Tidak banyak orang yang bisa menjadi pendengar jenis ini. Pendengar jenis ini selain bisa memberikan solusi yang diterima oleh orang lain juga harus memberikan solusi yang bijak. Bukan hanya solusi yang menyenagkan orang lain tetapi solusi terbaik untuk orang lain. Pendengar jenis ini adalah pendengar yang baik dan bisa menjadi sandaran ketika seseorang memiliki masalah dan membutuhkan solusi.

Pendengar yang ketiga adalah pendengar yang haya memberi kesimpulan dari apa yang didengarkannya. Pendengar tipe ini cocok dilakukan pada saat menerima materi pelajaran.

Nah “ngendikan” adalah bahasa Jawa dari berbicara. Berbicara digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berbicara juga digunakan untuk menyampaikan pendapat ke khalayak umum. Kemampuan berbicara ini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain.

Bericara dalam konteks yang saya bicarakan di atas adalah sisi positif berbicara. Nah jika hanya bisa berbicara akankah baik?

Tentunya tidak. Berbicara dan hanya berbicara bukanlah solusi dari masalah. Tetapi memang maslah perlu dibicarakan untuk menghasilkan suatu jalan keluar.

Nah porsi berbicara juga harus cukup.

Berbicara mudah dilakukan semua orang. Tinggal mengeluarkan statement saja di muka umum. Apalagi sekarang sudah banyak media mencurahkan pikiran secara maya misalnya facebook, dan lain-lain. Nah kadang-kadang yang menjadikan saya miris adalah tata cara penulisan di facebok dan media lain yang terkesan penulisnya tanpa mengenyam pendidikan. Apakah mereka tidak sadar, selain mereka, banyak yang melihat mereka secara maya baik orang yang dikenal maupun orang yang tidak dikenal. Atau pernyataan yang emang sengaja dibuat untuk menyindir orang lain. Dan apakah mereka menyadari bahwa orang lain juga memiliki perasaan? Apakah berbicara dengan baik-baik dan langsung bukan merupakan solusi yang terbaik?

Nah mendengarkan adalah hal utama yang harus dipelajari tiap manusia untuk menjadi yang lebih baik. Ketika mulai dilahirkan, manusia mendengarkan untuk belajar berbicara. Manusia belajar dengan cara mendengarkan orang lain, menyimpulkan mana yang baik dan untuk diikuti dan meninggalkan mana yang buruk untuk tidak dilakukan.

Banyak berbicara tidak menyelesaikan masalah. Lebih banyak mendengarkan membuat manusia tumbuh menjadi manusia yang bijak, manusia yang mampu berada pada posisi orang lain. Manusia yang mampu berada pada posisi orang lain akan tumbuh menjadi manusia yang menghargai dan mengerti terhadap orang lain. Sudut pandang orang jenis ini adalah universal dan tidak pernah memandang sesuatu hanya dari sudut pandangnya.

Nah, wahai manusia perbanyaklah mendengarkan dibanding hanya berbicara yang tidak baik. Semoga engkau menjadi manusia yang ARIEF bijaksana.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s